Rabu, 25 Maret 2015

penelitian tindakan kelas

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas ( PTK) / classsroom action research (CAR) adalah bentuk peneltian praktis yang dilaksanakan oleh guru-guru untuk menemukan solusi dari permasalahan yang timbul di kelasnya agar dapat meningkatkan proses dan hasil pembelajaran di kelas.  PTK berkonteks kelas artinya yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru (“di kelasnya”), memeperbaiki mutu dan hasil pembelajaran, dan  mencobakan hal-hal baru di bidang pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran. Pendek kata, PTK adalah ragam penelitian yang dimaksudkan untuk mengubah berbagai keadaan, kenyataan, dan harapan mengenai pembelajaran menjadi lebih  baik dan bermutu dengan cara melakukan sejumlah tindakan yang dipandang tetap.

Prinsip- Prinsip Penelitian Tindakan Kelas
Sebagaimana dikemukakan oleh Winter (1989), ada 6 prinsip penelitian tindakan. Keenam prinsip tersebut adalah:
1.    Prinsip Kritik Reflektik
Kritik reflektif artinya menilai apa yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah dikumpulkan secara cermat dan sistematis untuk memperoleh alternatif-alternatif tindakan inovatif yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.  Langkah-langkah prosedural melakukan kritik reflektik ini adalah :
a.    Mengumpulkan catatan-catatan yang telah dibuat oleh peserta penelitian tindakan atau oleh pihak yang berwenang, seperti catatan pengamatan, transkripsi wawancara, pernyataan tertulis dari peserta, atau dokumen resmi.
b.    Menejelaskan dasar reflektif catatan –catatan.
c.    Melakukan transformasi, pernyataan, dan sejumlah alternatif yang mungkin dapat disarankan, yang beberapa penafsiranya tidak terfikirkan sebelumnya.
2.    Prinsip Kritik Dialektik
Peneliti tindakan diharapkan menerapkan pendekatan dialektik yang menutup penelitian melakukan kritik terhadap gejala yang ditelitinya. Hal ini memerlukan pemeriksaan terhadap:
a.    Konteks hubungan secara menyeluruh yang merupakan kesatuan meskipun terdapat pemisahan yang jelas.
b.    Stuktur Kontradiksi Internal yang memungkinkan adanya kecenderungan untuk berubah, meskipun ia stabil.
Langkah awal adalah mengumpulkan semua catatan atau rekaman tentang gejala dari situasi yang di periksa. Catatan atau rekaman itu berupa pernyataan pendapat dari traskrip atau catatan wawancara ,hasil pengamatan, atau statistik perbandingan gejala tersebut. Langkah ini menghasilkan serangkaian gejala yang siap di kritik. Dalam melakukan kritik dialektik peneliti dapat memusatkan pada salah satu atau keseluruhan dari gejala tersebut, yaitu:
c.    Terpisah tetapi dalam konteks hubungan yang perlu ada ,
d.   Tunggal tetapi bervariasi, dan
e.    Cenderung berubah
3.    Prinsip Sumberdaya Kolaboratif
                             Peneliti tindakan hendaknya selalu ingat bahwa ia adalah bagian dari situasi yang di teliti. Ia bukan hanya pengamat, melainkan terlibat langsung dalam proses situasi tertentu. Kolaborasi di sini adalah bahwa sudut pandang setiap orangkan di anggap memberikan andil pada pemahaman tuntas. Tidak ada sudut pandang  seseorang yang akan di pakai sebagai pemahaman tuntas dan mumpuni dibandingkan dengan sudut pandang  lainya titik. Karena itu peneliti tindakan akan memulai pekerjaaan yadengan mengumpulkan sudut pandang. Serangkaina sudut pandang inilah yang memberikan struktur dan makna awal pada situasi yang di teliti.

4.    Prinsip Risiko
                             Dengan prinsip risiko berarti bahwa pemrakarsa penelitian tindakan harus berani mengambil resiko melalui proses penelitiannya. Salah satu resiko itu adalah melesetnya hipotesis. Resiko lain adalah tuntutan untuk melakukan transformasi. Hal-hal yang mungkin ditransformasikan antara lain:
a.    Penafsiran sementara peneliti tentang situasinya, yang sekedar menjadi sumberdaya bersama-sama dengan penafsiran anggota-anggota lainnya.
b.    Keputusan peneliti tindakan terkait dengan persoalan yang dihadapi; dan dengan demiian tentang apa yang sesuai dan apa yang tidak.
c.    Antisipasi penelitian terhadap urutan kejadian yang akan dilalui dalam penelitinnya.
5.    Prinsip Struktur Majemuk
Tidak seperti laporan penelitian konvensional khususnya aliran positifis yang berstruktur tunggal, laporan penelitian tindakan memiliki struktur majemuk. Hal ini sejalan dengan sifat penelitiannya yang dialektik, reflektif, mempertanyakan dan kolaboratif. Struktur majemuk ini berhubungan dengan gagasan bahwa gejala yang diteliti harus mencangkup seluruh unsur pokok agar menyeluruh. Misalnya, situasi pembelajaran yang diteliti sekurang-kurangnya harus mencakuppaling tidak data yang berhubungan dengan tutor, warga belajar, tujuan pendidikan, interaksi pembelajaran, dan hasil yang dicapai. Struktur majemuk ini memungkinkan laporan penelitian dapat memenuhi kebutuhan berbagai kelompok pembaca.
6.    Prinsip Teori, Praktik, dan Transformasi
Teori dan praktik dalam penelitian tindakan adalah dua entitas yang tidak terpisah satu sama lain. Walaupun berbeda, keduanya saling bergantung dan saling melengkapi dalam tahap-tahap proses perubahan.
Sejak awal peneliti tindakan terlibat dalam serangkaian kegiatan praktis: melakukan kontak, mengatur pertemuan, mengumpulkan dan memilah-milah materi, dengan memberikan keyakinan kepada pihak lain tentang kegunaannya. Dia melakukan kegiatan itu sebagai orang yang beinteraksi dengan orang lain dalam konteks situasi tertentu. Dilain pihak actor praktisi melakukan kegiatan dengan bantuan pemahaman teoritik yang mencakup : pengetahuan professional bidang keahliannya, kategori dan aturan mengenai apa yang normal dan apa yang membentuk rentangan kemungkinan. Jadi teori dan praktik bukan dua hal yang bertentangan. Teori mengandung unsur-unsur praktik, dan demikian pula sebaliknya. Teori dan praktik saling membutuhkan, mencakup tahap-tahap yang saling tak terhindarkan dalam proses perubahan yang menyatu, yang menyajikan masalah terkuat untuk penelitian tindakan praktis, sebagai kegiatan yang mewakili bentuk profesionalisme praktis dan bentuk penyelidikan social yang kuat.



Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas pada dasarnya mempunyai kekhasan tersendiri bila dibandingkan dengan penelitian lain seperti penelitian eksperimen, penelitian sejarah dan sejenisnya. Beberapa ciri khas penelitian tindakan kelas adalah :
1.    Dilakukan sendiri oleh guru sebagai pengelola kelas
2.    Berangkat dari masalah aktual yang terjadi dalam pembelajaran di kelas,
3.    Adanya tindakan tertentu yang perlu dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran dalam kelas
4.    Memiliki kerangka kerja yang teratur dengan berdasarkan hasil observasi nyata, dan data perilaku
5.    Fleksibel dan adaptif (mungkin ada perubahan selama penelitian),
6.    Bersifat partipasif, digunakan oleh peraktisi untuk meningkat kualitas tuGas mata pendidikan dilaksanakan dan dikembangkan melalui sepiral diri, yaitu spiral siklus perencanaan, tindakan, opserfasi,reflesi, perencanan kembali dan demikian seterusnya.
7.    Bersifat kolaboratif, melibatkan semua orang yang bertanggung jawab atas perbaikan praktik pendidikan atau sosial, memperluas kelompok kolaboratif dari yang paling langsung terlibat sampai sebanyak mungkin orang yang dikenai tindakan perbaikan tersebut.
8.    Membangun komunitas yang mampu melakukan kritik diri, terdiri dari orang-orang yang berpartisipasi dan berkolaborasi dalam semua tahapan proses penelitian.
9.    Merupakan proses pembelajaran yang sistematik yang didalamnya orang bertindak secara bebas, penuh kesadara, terbuka, dan responsif terhadap peluang.
10.  Terbuka terhadap bukti (data); mencakup kegiatan pembuatan catatan yang mendeskripsikan apa yang terjadi seakurat mungkin, pengumpulan data dan analisis penilaian, reaksi dan kesan tentang apa yang terjadi.




Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas dilaksanakan bukan semata-mata untuk memenuhi syarat administratif seperti portofolio atau kenaikan pangkat dari IVA ke IV B bagi guru atau mahasiswa, dan proses pembelajaran, manfaat PTK adalah sebagai berikut.
1.    Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu, hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat menjadi bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan, anatara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah,.
2.    Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, atau tradisi meneliti dan Menulis artikel ilmiah di kalangan guru. Hal ini telah ikut mendukung profesionalisme dan karier guru..
3.    Mampu mewujudkan kerjasama, kolaborasi, dan sinergi antar guru dalam satu sekolah Atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajara
4.    Mampu meningkatkan kemampuan guru dalam menjaarkan kurikulum atau program sesuai dengan tuntutan dan konteks local, sekolah, dan kelas. Hal ini memperkuat kekontekstualan dan relevansi pembelajaran bagi kebutuhan siswa.
5.    Dapat memupuk dan meningkatkan keterlibatan, kegairahan, ketertarikan, kenyamanan dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajran di kelas yang dilaksanakan guru. Hasil belajar siswapun dapat meningkat.
6.    Dapat maendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menentang, nyaman, menyenangkan, dan melibatkan siswa-siswa karena strategi, metode, teknik, dan media yang digunakan dalam pembelajaran.


Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
Tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pengajaran (pembelajaran) melalui teknik-teknik pengajaran yang tepat sesuai dengan masalah dan tingkat perkembangan siswa. Ptk juga dimaksudkan sebagai salah satu cara untuk memberdayakan guru dan meningkatkan kemampuan guru dalam membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya. Beberapa tujuan pokok ptk dapat dirinci sebagai berikut :
1.    Memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercpainya tujuan pembelajaran.
2.    Memperbaiki dan meningkatkan kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.
3.    Mengidentifikasi, menemukan solusi, dan mengatasi maalah pembelajaran dikelas agar pembelajaran bermutu.
4.    Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya.
5.    Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya, pendekatan, metode, strategi, dan media) yang dapat dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran.
6.    Mencobakan gagasan pikiran, kiat, cara, dan strategi baru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru.
7.    Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran dapat bertumpu pada kesan umum atau asumsi.