Pengertian Penelitian Tindakan
Kelas
Penelitian tindakan kelas ( PTK) / classsroom action research (CAR) adalah
bentuk peneltian praktis yang dilaksanakan oleh guru-guru untuk menemukan
solusi dari permasalahan yang timbul di kelasnya agar dapat meningkatkan proses
dan hasil pembelajaran di kelas. PTK
berkonteks kelas artinya yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan
masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru (“di kelasnya”),
memeperbaiki mutu dan hasil pembelajaran, dan
mencobakan hal-hal baru di bidang pembelajaran demi peningkatan mutu dan
hasil pembelajaran. Pendek kata, PTK adalah ragam penelitian yang dimaksudkan
untuk mengubah berbagai keadaan, kenyataan, dan harapan mengenai pembelajaran
menjadi lebih baik dan bermutu dengan
cara melakukan sejumlah tindakan yang dipandang tetap.
Prinsip- Prinsip Penelitian
Tindakan Kelas
Sebagaimana dikemukakan oleh Winter
(1989), ada 6 prinsip penelitian tindakan. Keenam prinsip tersebut adalah:
1. Prinsip
Kritik Reflektik
Kritik reflektif artinya menilai apa yang telah
dilakukan berdasarkan data yang telah dikumpulkan secara cermat dan sistematis untuk
memperoleh alternatif-alternatif tindakan inovatif yang belum pernah
terpikirkan sebelumnya. Langkah-langkah
prosedural melakukan kritik reflektik ini adalah :
a. Mengumpulkan
catatan-catatan yang telah dibuat oleh peserta penelitian tindakan atau oleh
pihak yang berwenang, seperti catatan pengamatan, transkripsi wawancara,
pernyataan tertulis dari peserta, atau dokumen resmi.
b. Menejelaskan
dasar reflektif catatan –catatan.
c. Melakukan
transformasi, pernyataan, dan sejumlah alternatif yang mungkin dapat
disarankan, yang beberapa penafsiranya tidak terfikirkan sebelumnya.
2. Prinsip
Kritik Dialektik
Peneliti tindakan diharapkan menerapkan pendekatan
dialektik yang menutup penelitian melakukan kritik terhadap gejala yang
ditelitinya. Hal ini memerlukan pemeriksaan terhadap:
a. Konteks
hubungan secara menyeluruh yang merupakan kesatuan meskipun terdapat pemisahan
yang jelas.
b. Stuktur
Kontradiksi Internal yang memungkinkan adanya kecenderungan untuk berubah,
meskipun ia stabil.
Langkah awal adalah
mengumpulkan semua catatan
atau rekaman tentang gejala dari situasi yang di periksa. Catatan atau rekaman itu berupa
pernyataan pendapat dari traskrip atau catatan wawancara ,hasil pengamatan,
atau statistik perbandingan gejala tersebut. Langkah ini menghasilkan
serangkaian gejala yang siap di kritik. Dalam melakukan kritik dialektik
peneliti dapat memusatkan pada salah satu atau keseluruhan dari gejala
tersebut, yaitu:
c. Terpisah
tetapi dalam konteks hubungan yang perlu ada ,
d. Tunggal
tetapi bervariasi, dan
e. Cenderung
berubah
3. Prinsip
Sumberdaya Kolaboratif
Peneliti tindakan
hendaknya selalu ingat bahwa ia adalah bagian dari situasi yang di teliti. Ia
bukan hanya pengamat, melainkan terlibat langsung dalam proses situasi tertentu.
Kolaborasi di sini adalah bahwa sudut pandang setiap orangkan di anggap
memberikan andil pada pemahaman tuntas. Tidak ada sudut pandang seseorang yang akan di pakai sebagai
pemahaman tuntas dan mumpuni dibandingkan dengan sudut pandang lainya titik. Karena itu peneliti tindakan
akan memulai pekerjaaan yadengan mengumpulkan sudut pandang. Serangkaina sudut
pandang inilah yang memberikan struktur dan makna awal pada situasi yang di
teliti.
4. Prinsip
Risiko
Dengan prinsip
risiko berarti bahwa pemrakarsa penelitian tindakan harus berani mengambil
resiko melalui proses penelitiannya. Salah satu resiko itu adalah melesetnya
hipotesis. Resiko lain adalah tuntutan untuk melakukan transformasi. Hal-hal
yang mungkin ditransformasikan antara lain:
a. Penafsiran
sementara peneliti tentang
situasinya, yang sekedar menjadi sumberdaya bersama-sama dengan penafsiran
anggota-anggota lainnya.
b. Keputusan peneliti tindakan terkait dengan persoalan
yang dihadapi; dan dengan demiian tentang apa yang sesuai dan apa yang tidak.
c. Antisipasi penelitian terhadap urutan kejadian yang
akan dilalui dalam penelitinnya.
5.
Prinsip
Struktur Majemuk
Tidak seperti
laporan penelitian konvensional khususnya aliran positifis yang berstruktur
tunggal, laporan penelitian tindakan memiliki struktur majemuk. Hal ini sejalan
dengan sifat penelitiannya yang dialektik, reflektif, mempertanyakan dan
kolaboratif. Struktur majemuk ini berhubungan dengan gagasan bahwa gejala yang
diteliti harus mencangkup seluruh unsur pokok agar menyeluruh. Misalnya, situasi
pembelajaran yang diteliti sekurang-kurangnya harus mencakuppaling tidak data
yang berhubungan dengan tutor, warga belajar, tujuan pendidikan, interaksi
pembelajaran, dan hasil yang dicapai. Struktur majemuk ini memungkinkan laporan
penelitian dapat memenuhi kebutuhan berbagai kelompok pembaca.
6.
Prinsip
Teori, Praktik, dan Transformasi
Teori dan
praktik dalam penelitian tindakan adalah dua entitas yang tidak terpisah satu
sama lain. Walaupun berbeda, keduanya saling bergantung dan saling melengkapi
dalam tahap-tahap proses perubahan.
Sejak awal peneliti tindakan terlibat dalam serangkaian kegiatan
praktis: melakukan kontak, mengatur pertemuan, mengumpulkan dan memilah-milah
materi, dengan memberikan keyakinan kepada pihak lain tentang kegunaannya. Dia melakukan
kegiatan itu sebagai orang yang beinteraksi dengan orang lain dalam konteks
situasi tertentu. Dilain pihak actor praktisi melakukan kegiatan dengan bantuan
pemahaman teoritik yang mencakup : pengetahuan professional bidang keahliannya,
kategori dan aturan mengenai apa yang normal dan apa yang membentuk rentangan
kemungkinan. Jadi teori dan praktik bukan dua hal yang bertentangan. Teori
mengandung unsur-unsur praktik, dan demikian pula sebaliknya. Teori dan praktik
saling membutuhkan, mencakup tahap-tahap yang saling tak terhindarkan dalam
proses perubahan yang menyatu, yang menyajikan masalah terkuat untuk penelitian
tindakan praktis, sebagai kegiatan yang mewakili bentuk profesionalisme praktis
dan bentuk penyelidikan social yang kuat.
Karakteristik Penelitian Tindakan
Kelas
Penelitian tindakan kelas pada dasarnya
mempunyai kekhasan tersendiri bila dibandingkan dengan penelitian lain seperti
penelitian eksperimen, penelitian sejarah dan sejenisnya. Beberapa ciri khas
penelitian tindakan kelas adalah :
1. Dilakukan
sendiri oleh guru sebagai pengelola kelas
2. Berangkat
dari masalah aktual yang terjadi dalam pembelajaran di kelas,
3. Adanya
tindakan tertentu yang perlu dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran
dalam kelas
4. Memiliki
kerangka kerja yang teratur dengan berdasarkan hasil observasi nyata, dan data
perilaku
5. Fleksibel
dan adaptif (mungkin ada perubahan selama penelitian),
6. Bersifat
partipasif, digunakan oleh peraktisi untuk meningkat kualitas tuGas mata
pendidikan dilaksanakan dan dikembangkan melalui sepiral diri, yaitu spiral
siklus perencanaan, tindakan, opserfasi,reflesi, perencanan kembali dan
demikian seterusnya.
7. Bersifat
kolaboratif, melibatkan semua orang yang bertanggung jawab atas perbaikan
praktik pendidikan atau sosial, memperluas kelompok kolaboratif dari yang
paling langsung terlibat sampai sebanyak mungkin orang yang dikenai tindakan
perbaikan tersebut.
8. Membangun
komunitas yang mampu melakukan kritik diri, terdiri dari orang-orang yang
berpartisipasi dan berkolaborasi dalam semua tahapan proses penelitian.
9. Merupakan
proses pembelajaran yang sistematik yang didalamnya orang bertindak secara
bebas, penuh kesadara, terbuka, dan responsif terhadap peluang.
10. Terbuka
terhadap bukti (data); mencakup kegiatan pembuatan catatan yang mendeskripsikan
apa yang terjadi seakurat mungkin, pengumpulan data dan analisis penilaian,
reaksi dan kesan tentang apa yang terjadi.
Manfaat
Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas dilaksanakan bukan semata-mata untuk memenuhi syarat
administratif seperti portofolio atau kenaikan pangkat dari IVA ke IV B bagi
guru atau mahasiswa, dan proses pembelajaran, manfaat PTK adalah sebagai
berikut.
1.
Menghasilkan
laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan guru untuk meningkatkan
mutu pembelajaran. Selain itu, hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat menjadi
bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan, anatara lain
disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah,.
2.
Menumbuhkembangkan
kebiasaan, budaya, atau tradisi meneliti dan Menulis artikel ilmiah di kalangan
guru. Hal ini telah ikut mendukung profesionalisme dan karier guru..
3.
Mampu
mewujudkan kerjasama, kolaborasi, dan sinergi antar guru dalam satu sekolah
Atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah pembelajaran dan
meningkatkan mutu pembelajara
4.
Mampu
meningkatkan kemampuan guru dalam menjaarkan kurikulum atau program sesuai
dengan tuntutan dan konteks local, sekolah, dan kelas. Hal ini memperkuat
kekontekstualan dan relevansi pembelajaran bagi kebutuhan siswa.
5.
Dapat
memupuk dan meningkatkan keterlibatan, kegairahan, ketertarikan, kenyamanan dan
kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajran di kelas yang dilaksanakan
guru. Hasil belajar siswapun dapat meningkat.
6.
Dapat
maendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menentang, nyaman,
menyenangkan, dan melibatkan siswa-siswa karena strategi, metode, teknik, dan
media yang digunakan dalam pembelajaran.
Tujuan
Penelitian Tindakan
Kelas
Tujuan penelitian
tindakan kelas adalah untuk
memperbaiki dan meningkatkan mutu pengajaran (pembelajaran) melalui
teknik-teknik pengajaran yang tepat sesuai dengan masalah dan tingkat
perkembangan siswa. Ptk juga dimaksudkan sebagai salah satu cara untuk
memberdayakan guru dan meningkatkan kemampuan guru dalam membuat keputusan yang
tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya. Beberapa tujuan pokok ptk dapat
dirinci sebagai berikut :
1.
Memperbaiki
dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi
tercpainya tujuan pembelajaran.
2.
Memperbaiki
dan meningkatkan kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.
3.
Mengidentifikasi,
menemukan solusi, dan mengatasi maalah pembelajaran dikelas agar pembelajaran
bermutu.
4.
Meningkatkan
dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan
membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya.
5.
Mengeksplorasi
dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya,
pendekatan, metode, strategi, dan media) yang dapat dilakukan oleh guru demi
peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran.
6.
Mencobakan
gagasan pikiran, kiat, cara, dan strategi baru dalam pembelajaran untuk
meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru.
7.
Mengeksplorasi
pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran
dapat bertumpu pada kesan umum atau asumsi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar